KOMUNIKASI TERAUPETIK Komunikasi teraupetik ada;ah proses dimana perawat yang menggunakan pendekatan terencana mempelajari klien. Proses pemfokusan pada klien namun direncanakan dan dipimpin oleh seorang professional ( Keltner, Schwecke,dan Bostrom 1991 ). Komunikasi terapeutik mengembangkan hubungan interpersonal antara klien dan perawat. Proses ini meliputi kemampuan khusus, karena perawat harus memperhatikan pada berbagai interaksi dan tingkahlaku non verbal. Komunikasi teraupetik disampaikan secara rahasia karena klien tahu bahwa semua informasi yangdisampaikan pada perawat menjadi bagian dari catatan medis dan tidak disebarkan sebagai gossip, maka klien merasa nyaman untuk memaparkan hal – hal yang berhubungan dengan data kesehatan, apa yang menjadi perhatian, ketakutan atau masalah keluarga. Dalam situsi ideal,perawat harus mewaspadai keinginan untuk berbagi informasi yang didapat dari klien selam pemaparan. Perawat dengan sengaja memberi informasi untuk kepenntingan pasien memaksimalkan rencana perawatan. Hanya tim perawatan kesehatan yang secaar langsung terlibat pada rencana klien untuk perawatan yang memiliki tanggung jawab pada informasi tersebut. Kerahasiaan harus selalu dijaga setiap saat dalam berhadapan dengan status pemaparan. Komunikasi teraupetik pada akhirnya menentukan perawat untuk menetapkan hubungan kerja dengan klien dan keluarganya. Perawat harus waspada tentang perbedaan budaya karena kadang klien merasa enggan untuk berbagi informasi secara terbuka dengan para professional. Proses komunikasi teraupetik seringkali meliputi kemampuan dan komitmen yang tulus pada pihak perawat untuk membantu klien mencapai keberhasilan keperawatan bersama.
1. Kebanyakan orang khawatir dari waktu ke waktu. Sebuah studi penelitian baru, yang dipimpin oleh seorang anggota Case Western Reserve University fakultas dalam psikologi,
2. Berikut beberapa faktor pemengaruh kuat yang patut menjadi perhatian kita. Dalam hal ini faktor-faktor yang tertera ini dapat menjadi faktor positif, faktor negatif ataupun kedua-duanya.
3. GLOBALISASI. Fenomena globalisasi menantang kekuatan penerapan unsur jati diri bangsa Indonesia melalui agen budaya luar sekolah terutama media massa.Samuel Huntington (1997) futurolog pertama yang mensinyalir munculnya perbenturan antar masyarakat “di masa depan” yang banyak terjadi dalam bentuk perbenturan peradaban “clash of civilisation.”Hal ini merupakan perwujudan dari menguatnya identity revolution.Batas-batas identitas (etnis, agama, ras, antar golongan) yang selama rezim orde baru ditabukan sebagai SARAjustru bangkit sebagai sebuah kekuatan basis. Perkembangan masyarakat global, batas wilayah negara dalam arti geografis dan politik relatif tetap. Namun kehidupan suatu negara tidak dapat lagi membatasi kekuatan global yang berupa informasi, inovasi, industri, dan konsumen yang makin individualistis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar